Selamat membaca

semoga bermanfaat

judul widget leftbar

Label

Template Information

Random

Diberdayakan oleh Blogger.

assalamu'alaikum, Peluang Bisnis Online Yang Terbukti

infopaytren.com

Cara Membuat Sale Pisang dengan tradisional

SALE PISANG CARA TRADISIONAL
  1. PENDAHULUAN Buah-buahan merupakan bahan pangan sumber vitamin. Selain buahnya yang dimakan dalam bentuk segar, daunnya juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Misalnya daun pisang untuk makanan ternak, daun pepaya untuk mengempukkan daging dan melancarkan air susu ibu (ASI) terutama daun pepaya jantan.
    Warna buah cepat sekali berubah oleh pengaruh fisika misalnya sinar matahari dan pemotongan, serta pengaruh biologis (jamur) sehingga mudah menjadi busuk. Oleh karena itu pengolahan buah untuk memperpanjang masa simpannya sangat penting. Buah dapat diolah menjadi berbagai bentuk minuman seperti anggur, sari buah dan sirup juga makanan lain seperti manisan, dodol, keripik, dan sale.
    Pisang dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu :

    1. Pisang yang dimakan dalam bentuk segar, misalnya : pisang ambon, raja sere, raja bulu, susu, seribu, dan emas.
    2. Pisang yang dimakan setelah diolah terlebih dahulu, misalnya : pisang kepok, nangka, raja siam, raja bandung, kapas, rotan, gajah, dan tanduk.
  2. Pisang banyak mengandung protein yang kadarnya lebih tinggi daripada buah-buahan lainnya, namun buah pisang mudah busuk. Untuk mencegah pembusukan dapat dilakukan pengawetan, misalnya dalam bentuk keripik, dodol, sale, anggur, dan lain-lain. Sale pisang merupakan produk pisang yang dibuat dengan proses pengeringan dan pengasapan. Sale dikenal mempunyai rasa dan aroma yang khas.
    Sifat-sifat penting yang sangat menentukan mutu sale pisang adalah warna, rasa, bau, kekenyalan, dan ketahanan simpannya. Sifat tersebut banyak dipengaruhi oleh cara pengolahan, pengepakan, serta penyimpanan produknya. Sale yang dibuat selama ini sering kali mutunya kurang baik terutama bila dibuat pada waktu musim hujan. Bila dibuat pada musim hujan perlu dikeringkan dengan pengeringan buatan (dengan sistem tungju).
    Ada 3 (tiga) cara pembuatan sale pisang, yaitu :

    1. Cara tradisional dengan menggunakan asap kayu;
    2. Cara pengasapan dengan menggunakan asap belerang;
    3. Cara basah dengan menggunakan natrium bisulfit.
    Proses pengasapan dengan menggunakan belerang berguna untuk :
    1. Memucatkan pisang supaya diperoleh warna yang dikehendaki;
    2. Mematikan mikroba (jamur, bakteri);
    3. Mencegah perubahan warna.
  3. BAHAN
    1. Buah pisang 36 kg
    2. Belerang (untuk cara pengasapan) ½ gram (untuk 9 kg sale pisang)
    3. Kayu bakar (untuk cara tradisional) secukupnya
    4. Natrium bisulfit (untuk cara basah) 15 gram/liter air
  4. ALAT
    1. Lemari pengasapan (1x1 m)
    2. Pisau
    3. Tambah (nyiru)
    4. Rak penjemur
    5. Panci
    6. Baskom
    7. Plastik (untuk pembungkus)
    8. Lilin (untuk penutup pembungkus)
    9. Sendok
    10. Kayu bundar atau bambu (untuk memipihkan pisang)
    11. Tungku atau kompor
    12. Merang (jerami).
      ==JIKA ARTIKEL INI BERMANFAAT, BANTU KLIK SALAH SATU IKLAN DIBAWAH INI.............==
  5. CARA PEMBUATAN SALE PISANG CARA TRADISIONAL
    (dengan menggunakan asap kayu)
    1. Kupas pisang yang telah tua dan matang lalu kerok sedikit bagian luarnya agar bersih;
    2. Letakkan pisang di atas tampah lalu asapkan dengan menggunakan asap kayu bakar selama 2 jam;
    3. Jemur pisang di atas rak penjemuran yang beralaskan merang selama 4~5 hari. Sambil dijemur sewaktu-waktu pisang dipipihkan (dipres) dengan kayu bundar atau bambu;
    4. Bungkus sale pisang yang telah dijemur dengan daun pisang kering. Masukkan ke dalam plastik lalu tutup dengan lilin.
  6. DIAGRAM ALIR PEMBUATAN SALE PISANG CARA TRADISIONAL
    Catatan:

    1. Sale pisang yang dihasilkan hanya mencapai 25 % atau seperempat bagian dari berat pisang utuh (masih ada kulitnya). Jenis pisang yang sering dibuat sale adalah : pisang ambon, Untuk keripik pisang manis dapat ditambahkan gula pasir halus pada keripik yang sudah digoreng.
    2. Pemberian rasa pedas dapat dilakukan bersama-sama dengan pemberian gula halus.
  7. DAFTAR PUSTAKA Tri Radiyati, et. Al. Kerupuk keripik. Subang : BPTTG Puslitbang Fisika Terapan-LIPI, 1990. Hal. 15-20.
  8. KONTAK HUBUNGAN Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan, PDII, LIPI, Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta 12910.
    Sumber : Tri Margono, Detty Suryati, Sri Hartinah, Buku Panduan Teknologi Pangan, Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI bekerjasama dengan Swiss Development Cooperation, 1993.




Cara Membuat YAM Tomat

YAM TOMAT
  1. PENDAHULUAN Yam tomat adalah sejenis saos dengan konsistensi lebih kental. Yam ini dibuat tanpa penambahan bumbu kecuali gula dan asam. Cara pembuatannya sama dengan pembuatan saos tomat yang lain.

  2. BAHAN

    1. Buah tomat. Buah tomat yang digunakan adalah yang telah matang sempurna dan berwarna merah rata. Jumlah 1 kg.
    2. Gula pasir putih bersih yang telah dihaluskan (750 gram).
    3. Pengawet. Pengawet adalah senyawa kimia yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba perusak saos. Pengawet yang digunakan adalah senyawa benzoat dalam bentuk asam benzoat (C6H5COOH), atau garamnya (sodium benzoat dan kalsium benzoat). Untuk keperluan pengolahan yam ini, jumlah asam atau sodium benzoat yang digunakan adalah 8 gram.
    4. Pengasaman digunakan untuk mengasamkan atau untuk menurunkan pH saus menjadi 3,8~4,4. Pada pH rendah pertumbuhan kebanyakan bakteri akan tertekan, dan sel generatif serta spora bakteri sangat sensitif terhadap panas. Dengan demikian, proses sterilisasi bahan yang ber-pH rendah dapat dilakukan dengan suhu air mendidih (100 °C) dan tidak perlu dengan suhu lebih tinggi (121°C). Asam juga bersinergisme dengan asam benzoat dalam menekan pertumbuhan mikroba. Jumlah asam yang diperlukan: asam sitrat, 5 gram.
  3. PERALATAN
    1. Pisau perajang dan landasan perajang. Alat ini digunakan untuk merajang buah tomat.. Hasil perajangan adalah berupa potongan-potongan tomat yang berukuran 2~3 cm.
    2. Penggiling rajangan tomat. Alat ini digunakan untuk menggiling rajangan tomat menjadi bubur tomat. Blender dapat digunakan untuk menghaluskan rajangan tomat dalam jumlah kecil menjadi bubur. Mesin penggiling digunakan untuk menggiling tomat dalam jumlah besar menjadi bubur tomat.
    3. Wadah pemasak saus. Wadah ini adalah untuk memasak bubur tomat yang telah diberi bumbu. Wadah ini harus terbuat dari bahan tahan karat, bagian dalamnya licin dan mudah dibersihkan.
    4. Kompor. Kompor bersumbu digunakan untuk memasak saos dalam jumlah kecil. Kompor bertekanan udara digunakan untuk memasak saos dalam jumlah lebih besar.
    5. Tungku. Tungku hemat energi dapat dijadikan alternatif, tetapi tungku ini lebih berjelaga, sehingga lebih mengotori wadah. Disamping itu, panas tungku lebih sulit diatur. Keuntungannya adalah hemat dalam pemakaian bahan bakar kayu sehingga biaya pengoperasiannya lebih murah.
    6. Penutup botol. Penutup botol digunakan untuk memasangkan tutup botol dari kaleng ke mulut botol secara rapat. Alat ini mempunyai konstruksi yang sederhana dan biaya pembuatannya murah.
    7. Timbangan. Timbangan digunakan untuk menakar berat bahan yang digunakan. Kapasitas timbangan disesuaikan dengan jumlah bahan yang diolah.
    8. Segel plastik. Segel plastik adalah kantong plastik yang kedua ujungnya terbuka yang dapat menempel secara rapat sekali pada mulut botol yang telah dipasang tutupnya. Plastik ini berfungsi sebagai segel. 
    ==JIKA ARTIKEL INI BERMANFAAT, BANTU KLIK SALAH SATU IKLAN DIBAWAH INI.............==

  4. CARA PEMBUATAN
    1. Pembuatan Yam
      1. Tomat dicuci bersih, bagian tangkal yang agak menghitam dibuang, kemudian di rendam di dalam air yang telah diberi kaporit (10 ppm selama 10 menit). Setelah itu tomat ditiriskan.
      2. Tomat digiling atau diblender sampai halus sehingga diperoleh bubur tomat.
      3. Bubur tomat dicampur dengan gula pasir yang telah dihaluskan, asam sitrat, dan asam benzoat; kemudian campuran dimasak, dan dibiarkan mendidih dengan api sedang sambil diaduk-aduk sampai volume menjadi setengah volume semula.
      4. Pengadukan dan pemanasan diteruskan dengan api sangat kecil sekedar mempertahankan bahan tetap panas. Pengemasan dilakukan pada saat yam ini dipanaskan.
    2. Pengemasan
      1. Botol kaca yang bersih direndam didalam air yang mengandung kaporit 5-10 ppm (5 sampai 10 gram kaporit per 1 m 3 air) selama 30 menit di dalam wadah tahan karat. Botol disusun di dalam air perendam tersebut dalam posisi terbalik. Setelah itu, wadah yang berisi rendaman botol direbus sampai mendidih. Setelah mendidih, api dikecilkan sekedar untuk mempertahankan air perebus tetap panas. Kondisi ini dipertahankan selama pengemasan. Sementara itu, tutup botol direbus di dalam air mendidih lain. Selama pengemasan, tutup botol harus tetap berada pada air mendidih.
      2. Sebuah botol dikeluarkan dari air mendidih dalam keadaan terbalik dengan menggunakan penjepit. Dengan bantuan corong, yam panas segera dituangkan ke dalam botol. Botol diisi hanya sampai 4 cm di bawah mulut botol. Setelah itu, sebuah tutup botol yang sedang direbus segera diangkat, dipasangkan pada mulut botol, dan ditutupkan dengan bantuan alat penutup botol. Pekerjaan ini harus dilakukan secara cepat dan cermat.
      3. Proses di atas diulang sampai semua yam terkemas di dalam botol.
    3. Sterilisasi
      1. Botol yang sudah berisi yam dan tertutup rapat direbus didalam air mendidih selama 30 menit. Proses ini akan membunuh banyak mikroba pembusuk yang dapat merusak bahan.
      2. Setelah itu, botol dikeluarkan dari air mendidih, dan disimpan dalam keadaan terbalik. Jika terjadi rembesan saus melalui tutup botol, tutup harus dibuka dan dilakukan kembali penutupan dengan tutup yang baru. Setelah itu, botol ini harus disterilkan kembali.
    4. Penyegelan Setelah semua yam terkemas di dalam botol, segel plastik dipasang pada mulut botol. Mulut botol yang terpasang segel dicelupkan pada panas (90°C) beberapa detik sehingga segel mengkerut dan menempel dengan rapat pada mulut botol.
    5. Pemberian label Proses terakhir adalah penempelan label pada bagian luar botol.
  5. KONTAK HUBUNGAN Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat, Jl. Rasuna Said, Padang Baru, Padang, Telp. 0751 40040, Fax. 0751 40040
    Sumber : Teknologi Tepat Guna Agroindustri Kecil Sumatera Barat, Hasbullah, Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat

Cara Menanam Gambir

PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Gambir merupakan salah satu komoditas perkebunan rakyat yang bernilai ekonomi tinggi dan prospektif untuk dikembangkan secara komersial pada masa yang akan datang, mengingat kegunaannya yang beragam baik secara tradisional sebagai pencampur makan sirih maupun sebagai bahan baku dan bahan penolong berbagai industri seperti industri farmasi, penyamak kulit, minuman, cat, dan lain-lain.
Di Indonesia gambir pada umumnya digunakan untuk menyirih. Gambir diketahui merangsang keluarnya getah empedu sehingga membantu kelancaran proses dalam perut dan usus (Djarwaningsih, 1993). Fungsi gambiryang lain adalah untuk campuran obat seperti untuk luka bakar, obat sakit kepala, obat diare, obat disentri, obat kumur-kumur, obat sariawan, serta obat sakit kulit yang digunakan dengan cara dibalurkan, penyamak kulit dan bahan pewarna tekstil. Fungsi yang tengah dikembangkan juga adalah sebagai perekat kayu lapis atau papan partikel (Nazir, 2003). Menurut Ridsdale (1993), gambir memiliki tiga kegunaan utama yaitu: (1) untuk penyamak kulit, (2) untuk menyirih yang dikonsumsi bersama buah pinang (Areca catechu L), kapur dan daun sirih (Piper betle L.) serta (3) untuk obat-obatan.
 Fungsi yang tengah dikembangkan juga adalah sebagai perekat kayu lapis atau papan partikel. Produk ini masih harus bersaing dengan sumber perekat kayu lain, seperti kulit kayu Acacia mearnsii, kayu Schinopsis balansa, serta kulit polong Caesalpinia spinosa yang dihasilkan negara lain.
Kandungan yang utama dan juga dikandung oleh banyak anggota Uncaria lainnya adalah flavonoid(terutama gambiriin), katekin (sampai 51%), zat penyamak (22-50%), serta sejumlah alkaloid(seperti gambirtannin dan turunan dihidro- dan okso-nya. Selain itu gambir dijadikan obat-obatan modern yang diproduksi negara jerman, dan juga sebagai pewarna cat pakaian.
Secara modern gambir banyak digunakan sebagai bahan baku industri farmasi dan makanan, di antaranya bahan baku obat penyakit hati dengan paten “catergen”, bahan baku permen yang melegakan kerongkongan bagi perokok di Jepang karena gambir mampu menetralisir nikotin. Sedangkan di Singapura gambir digunakan sebagai bahan baku obat sakit perut dan sakit gigi (Suherdi dkk, l99l; Nazir, 2000). Idris (1997) melaporkan bahwa pathogen Fusarium Sp sebagai penyebab penyakit becak daun tanaman klausena dapat dikendalikan dengan menggunakan pestisida nabati yang berasal dari ekstrak daun gambir. Selain itu, pestisida nabati yang berasal dari daun gambir juga mampu mengendalikan F. Oxysporium penyebab penyakit layu tanaman cabai (Nasrun, 1999) dan F. oxysporium f.Sp Licopersici penyebab penyakit layu tanaman tomat (Nasrun, 2001)
1.2  tujuan
Tujuan dalam praktikum ini adalah untu menganalisa usahatani gambir supaya mengetahui seberapa berhasilnya tanaman gambir dan tugas akhir pratikum manajemen usahatani.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Gambir adalah tumbuhan perdu setengah merambat dengan percabangan memanjang. Daun oval, memanjang, ujung meruncing, permukaan tidak berbulu (licin), dengan tangkai daun pendek. Bunganya tersusun majemuk dengan mahkota berwarna merah muda atau hijau; kelopak bungapendek, mahkota bunga berbentuk corong (seperti bunga kopi), benang sarilima, dan buah berupa kapsuladengan dua ruang.
Tanaman gambir dibudidayakan pada lahan ketinggian 200-800 m di atas permukaan laut. Mulai dari topografi agak datar sampai di lereng bukit. Biasanya ditanam sebagai tanaman perkebunan di pekarangan atau kebun di pinggir hutan. Budidaya biasanya semiintensif, jarang diberi pupuk tetapi pembersihan dan pemangkasan dilakukan. Di Sumatra kegiatan penanaman ini sudah mengganggu kawasan lindung.
Tumbuhan gambir (Uncaria gambir (Hunt.) Roxb) termasuk dalam divisi Magnoliophyta, kelas Magnoliopsida, ordo Gentianales, family Rubiaceae dan genus Uncaria (Ridsdale, 2007). Gambir merupakan liana yang batang mudanya berbentuk persegi dan batang utamanya tegak, dilengkapi dengan kait yang melengkung. Kait tersebut adalah modifikasi dari gagang perbungaan. Daunnya berhadapan, agak menjangat, pinggirannya rata, berbentuk bundar telur sampai lonjong, gundul, pertulangan daun bagian bawah menonjol dengan rambut-rambut domatia, penumpunya rata, gundul, panjangnya 7.5-12.5 cm. Perbungaannya bertipe bongkol, tumbuh di ketiak daun dan di ujung ranting, bongkol itu berdiameter 6-8 cm, tangkai bunga mencapai panjang 3 mm, gundul, hipantium bergaris tengah 1-2 mm, berambut rapat, berwarna kuning sampai merah tua, tabung mahkota berbentuk benang, bagian luar berbulu jarang, panjangnya 10-15 mm, daun kelopak panjangnya 5-7 mm, tabungnya + 2.5 mm. Buahnya berbentuk bulat agak lonjong, berdiameter 15-17.5 mm (Djarwaningsih, 1993). Gambir dibudidayakan pada lahan dengan ketinggian 200-800 m di atas permukaan laut, mulai dari topografi agak datar sampai di lereng bukit. Biasanya gambir ditanam sebagai tanaman perkebunan di pekarangan atau kebun di pinggir   hutan. Budidaya gambir biasanya semiintensif, jarang diberi pupuk tetapi pembersihan dan pemangkasan dilakukan (Djarwaningsih, 1993).
Tanaman gambir di daerah Sumatera Barat, merupakan tanaman yang diusahakan secara turun-temurun, dan dianggap sebagai tabungan hidup serta sumber pendapatan bagi masyarakat. Pertanaman gambir rakyat di Kabupaten Lima Puluh Kota, meskipun tidak begitu banyak mengalami penambahan areal baru tapi komoditas ini merupakan komoditas unggulan dengan kawasan andalan di Kecamatan Pangkalan, Kapur IX, dan Suliki (LPEPFEUNAND, l998). Berbeda dengan di Kabupaten Pesisir Selatan yang dua per tiga dari lahan yang ada sekarang merupakan bukaan baru dan umumnya terletak pada lahan kritis dengan kemiringan yang cukup tinggi dan didominasi oleh semak belukar serta hutan lebat, sehingga persiapan awal penanaman gambir memerlukan modal dan tenaga kerja yang cukup besar. Oleh karena itu, untuk membuka lahan petani biasanya melakukan pembakaran dengan alasan biaya lebih murah dan mudah mengerjakannya serta abunya dapat berfungsi sebagai pupuk untuk menyuburkan tanah (Buharman dkk, 200l).
Selanjutnya petani akan membuat lobang tanam dengan jarak tanam 1,5 x1,5 m atau tidak beraturan bila dilahan tersebut ditanami tanaman keras lainnya seperti durian, kasiavera, petai dan lain-lain. Bahan tanaman yang digunakan oleh petani umumnya menggunakan bibit kebun sendiri atau dari kebun tetangga. Hasan dkk (2000) mengemukakan bahwa pemeliharaan tanaman gambir sangat jarang dilakukan petani, seperti pemupukan dilakukan hanya dengan mengembalikan ampas dari perasan daun gambir yang telah mengompos, di letakkan di sekitar pohon tanaman gambir.
Penyiangan dilakukan dengan cara menebas semak-semak yang berada disekitar pohon gambir. Hal ini sebagai usaha menghindari terjadinya erosi, mengingat lahan yang digunakan kebanyakan lahan miring, apalagi pengendalian erosi dengan pembuatan teras tidak pernah dilakukan petani. Sedangkan untuk pengendalian hama dan penyakit, petani hampir tidak pernah melakukannya, kalaupun ada hanya sebatas pembongkaran tanaman yang mengalami tingkat serangan yang sudah cukup berat, kemudian setelah itu menggantikan tanaman yang telah dicabut dengan tanaman yang baru (Mardinus et al., l995).
Pemanenan
Tanaman gambir dipanen pertama kalinya pada saat tanaman berumur 1-2 tahun. Sedangkan panen berikutnya tidak ada kriteria tertentu, biasanya petani hanya melihat jumlah daun yang cukup banyak dengan usia daun berkisar antara 6- 8 bulan setelah panensebelumnya. Panen menggunakan dua orang tenaga menggunakan alat ani-ani atau tuai memotong seluruh ranting-ranting yang terdapat pada cabang tanaman dengan jarak 2-3 cm dari pangkalnya, kecuali ranting muda yang terdapat pada ujung-ujung cabang (Buharman dkk, 200l).
Daun beserta ranting diikat dan dimasukkan ke dalam sebuah keranjang anyaman rotan dengan kapasitas 15 kg dan langsung dibawa ketempat pengolahan yang letaknya di tengah kebun. Dalam satu hari dua orang petani pekerja mampu memanen daun gambir sebanyak 4 5 keranjang,
 Kualitas dari gambir biasanya ditentukan pada saat pengolahan. Petani pengolah yang menggunakan air rebusan daun gambir yang berulang-ulang akan mendapatkan kualitas lebih jelek bila dibandingkan hasil olahan yang airnya diganti setiap melakukan pengolahan (Hasan, 2000).
Pada umumnya petani gambir mengolah gambir menjadi produk dengan menggunakan peralatan yang sangat sederhana yang diperoleh secara turun menurun, walaupun beberapa produk hasil rakitan dari Balitro Bogor dan BPTP Sumatera Barat telah dikenalkan kepada petani, tetapi karena harga produk tersebut dirasakan masih mahal oleh petani, maka sebagian besar petani masih enggan menggunakannya
Pasar gambir sudah berkembang dan tersebar di beberapa tempat baik di Kabupaten Lima Puluh Kota maupun di Kabupaten Pesisir Selatan. Tempat penampungan (gudang) gambir rata-rata dimiliki oleh pedagang besar yang berpusat di kota Padang. Permasalahan utama yang dihadapi oleh petani dalam memasarkan produknya adalah dominasi pedagang kabupaten yang merupakan kaki tangan daripara eksportir gambir. Melalui kaki-tangannya  di daerah, membuat pedagang pengumpul dan petani lainnya tidak berperan (Buharman, dkk,200l).
Penentuan harga di pasar gambir lebih didominasi oleh kaki-tangan pedagang besar (eksportir), walaupun pembelinya banyak, tetapi tetap saja tidak berlaku hukum penawaran dan permintaan. Praktek yang terjadi adalah pengaturan pembelian secara bergilir atau sebangsa arisan di antara pedagang desa oleh kaki tangan pedagang besar dengan harga yang telah ditentukannya.
Selama dalam proses tataniaga gambir di tingkat Kabupaten, tidak ditemukan “ treatment “ (perlakuan) yang diberikan oleh pedagang perantara, kecuali bagi yang bermodal besar memberikan perlakuan pengeringan melalui penjemuran di panas matahari. Biasanya mereka kumpulkan dalam waktu satu sampai dua minggu untuk mendapatkan gambir dalam jumlah tertentu dari pertani atau pedagang pengumpul desa, untuk diangkut ke kota Medan dan selanjutnya dari kota Medan di ekspor ke Singapura atau ke India.
Alasan petani menjual gambirnya di rumah kepada pedagang pengumpul di desa adalah lebih praktis dan harganya tidak jauh berbeda dengan harga di pasar lokal, berarti lebih menguntungkan karena tidak mengeluarkan
biaya ongkos angkut, komisi dan sebagainya bila dibawa ke pasar gambir. Apalagi petani tidak memiliki akses ke pasar dan pedagang besar
selalu mempermainkan harga gambir.
Tingginya harga di luar negeri tidak selalu berkorelasi positif dengan harga di dalam negeri, kalaupun ada pengaruhnya tidak signifikan. Hal disebabkan oleh kualitas produk di dalam negeri yang sangat rendah dan petani dinilai tidak mampu memenuhi kualitas yang diinginkan, sehingga para ekportir perlu melakukan proses lebih lanjut agar bisa diterima pasar.
Hasil pengamatan di lapangan memperlihatkan bahwa permasalahan sistem dan usaha agribisnis gambir adalah sangat mendasar, baik masalah hulu maupun hilir yang memerlukan pemecahan secara terpadu dan konsisten, terutama sekali masalah permodalan dan pemasaran yang perlu dicari pemecahannya dalam waktu dekat. Hasil identifikasi permasalahan modal/ pemasaran dan alternatif pemecahan masalah.
Hasil studi yang dilakukan Denian dan Fiani (1994) dibeberapa lokasi sentra produksi gambir secara morfologis ditemukan 3 tipe gambir, yaitu tipe udang,cubadak, dan riau. Perbedaan morfologisnya terlihat dari ukuran daun, panjang, petiola, warna pucuk, warna daun, warna cabang dan ranting, dan rendemen hasil. Ada kecenderungan produktivitas getah dan rendeman tipe udang lebih baik dari pada tipe lainnya, walaupun hal ini masih memerlukan penelitian lebih jauh.
Hasan et al. (2000) mengemukakan bahwa tanaman gambir sampai saat ini umumnya diperbanyak melalui perbanyakan generatif, yaitu melalui biji yang disemaikan lebih dulu dengan prosedur tertentu untuk memperoleh bahan tanaman yang memiliki daya tumbuh lebih baik. Selanjutnya dibibitkan di tempat khusus sebelum ditanam di lapangan. Namun demikian, tanaman gambir juga dapat dikembangkan melalui perbanyakan vegetatif, seperti stek, perundukan, dan kultur jaringan (Hasan dan Edirman, l996), tetapi cara ini tidak umum dilakukan petani dan biasanya dilakukan untuk kepentingan penelitian dan pengkajian, terutama sekali dalam rangka mempertahankan kualitas bibit turunan dari induknya atau pemurnian jenis. Identifikasi permasalahan bibit dan alternatif pemecahannya  dikemukaka pada matrik program aksi pembibitan gambir di Sumatera Barat.
Budidaya yang benar adalah bagaimana caracara bercocok tanam yang tepat sejak dari penyiapan lahan sampai proses berproduksi, di antaranya pembuatan lubang tanam, jarak tanam, dan tindakan pemeliharaan (penyiangan, pemupukan dan pengendalian hama penyakit).
Jarak tanam gambir bervariasi antara l,5 x l,5 s/d 3,5x3,5 m tergantung pada kemiringan lahan yang digunakan untuk penanaman. Jarak tanam yang terlalu rapat mngakibatkan terjadinya persaingan antara tanaman relatif tinggi, sehingga pertumbuhan dan produksi tidak optimal. Demikian pula bila terjadi sebaliknya, jarak tanaman yang terlalu longgar menyebabkan terjadinya bahaya longsor, penggunaan lahan yang tidak efisien dan berpeluangnya pertumbuhan gulma yang menjadi kompetisi tanaman dalam memanfaatkan hara, air, cahaya dan tempat tumbuh (Isely, l960; Delorit dan Ahlgreen, l967). Hasil penelitian jarak tanam yang dilaksanakan di Tanjung Pati, Kabupaten 50 Kota pada tahun l918 diperoleh hasil tertinggi pada jarak tanam 3 x 3.5 m (Heyne, l987). Sedangkan Idris dkk (l996) menyatakan bahwa jarak tanam gambir 2 x 2 m yang digunakan pada penelitian di Solok, Pasisir Selatan dan Kabupaten 50 Kota menghasilkan produksi yang lebih baik. Tapi umumnya petani menggunakan jarak tanam l.5xl.5 m.
Untuk ukuran lubang disarankan Hasan (2004) menggunakan ukuran 30 x 30 x 30 cm atau 40 x 40 x 40 cm akan memberikan pertumbuhan yang baik bagi tanaman gambir. Sedangkan Daswir dan Kesuma (l993) melaporkan bahwa pertumbuhan bibit yang baik di lapangan diperoleh dari ukuran lubang l0 x l5 x 30 cm.
Pemupukan gambir merupakan salah satu cara untuk mendapatkan produksi yang optimal mengingat kandungan hara di dalam tanah terbatas dan cenderung menurun akibat diserap tanaman terus menerus. Apalagi pertanaman gambir rakyat diusahakan pada daerah yang relatif miskin hara atau lahan marginal dengan topografi miring dan bergelombang yang rentan dengan erosi, diperlukan penambahan unsur hara dari luar dalam bentuk pupuk. Oleh karena itu, unsur hara yang diberikan ke dalam tanah berupa pupuk hendaklah dalam jumlah yang mampu untuk meningkatkan produksi dan mengganti hara yang diserap tanaman. Hasan (l995) melaporkan bahwa pemupukan tanaman gambir di Siguntur pada tanaman umur 2 tahun menggunakan NPK l5.l5.l5 sebanyak 200 kg/ha dapat meningkatkan produksi panen daun dan ranting basah sebesar 77,67 % per rumpun. Sedangkan di Kebun Percobaan Laing Solok dengan ukuran yang sama dapat meningkatkan produksi daun dan ranting basah sebesar 6l,59 % (Hasan, l994). Begitu pula Kusuma (l992) telah mengungkapkan bahwa pemupukan tanaman gambir umur 7 tahun di Siguntur dengan NPK 15.15.15 sebanyak 200 kg/ha dapat meningkatkan pertumbuhan rata-rata diameter batang 52,08 %, jumlah daun 62,02 %, jumlah cabang primer 99.68 %, panjang cabang sekunder 46,74%.
Pengendalian hama penyakit pada tanaman gambir belum banyak dilakukan mengingat serangan hama penyakit belum sampai menganggu pertanaman di lapangan, namun demikian ada beberapa jenis hama yang menyerang, di antaranya famili lepidoptera, hemiptera, coleoptera, dan orthoptera yang merusak daun dan pucuk tanaman gambir (Adria dan Idris, l995). Sedangkan Arneti dkk (l999) menemukan 5 jenis serangga yang menyerang pertanaman gambir di sentra produksi, yaitu hama belalang(orthoptera) dengan rata-rata 7,5 %, ulat kantong(lepidoptera) rata-rata 5 % ; kepik (Hemiptera) rata-rata l0% dan kutu daun (homoptera) rata-rata 5 % serta penggulung daun (lepidoptera) rata-rata 7,5 %. Sedangkan serangan penyakit pada tanaman gambir belum banyak diketahui (Mardinus et al., l995), meskipun di lapangan ditemukan gejala bercak daun yang disebabkan serangan jamur.
Umumnya petani melakukan panen 2 kali setahun tergantung keadaan pertumbuhan tanaman dan ketuaan daun, bila pertumbuhan baik dan ketuaan daun memenuhi syarat, maka dapat dilakukan 3 kali setahun. Risfaheri dan Yanti (l993) mengemukakan bahwa tingkat ketuaan daun gambir saat dipanen berpengaruhpada rendemen dan dan kadar katechin. Ada kecenderungan daun yang lebih muda memiliki rendemen dan kadar katechin yang lebih tinggi. Sedangkan Suherdi (l995) yang melakukan pengamatan terhadap pengolahan daun gambir tanpa dan menggunakan ranting ternyata kandungan getah pada daun gambir lebih tinggi dibanding pakai ranting .
Pengolahan gambir secara tradisional yang umumnya dilakukan petani melalui enam tahap, yaitu perebusan daun dan ranting, “pengempaan”, pengendapan getah, penirisan, pencetakan, dan pengeringan, Pengolahan ini akan menghasilkan produk yang terdiri atas 2 jenis, yaitu gambir untuk makan sirih dan bahan baku untuk industri. Perbedaan pengolahan ke dua jenis adalah pada cara perebusan. Produk makan sirih perebusannya hanya menggunakan air biasa, sedangkan untuk bahan baku industri menggunakan air yang dicampur dengan air limbah dari penirisan getah gambir selama proses penisiran getah berlangsung serta ditambah zat kimia tertentu sebagai suplement. Oleh karena itu, produk gambir untuk makan sirih kadar katechinnya lebih tinggi (71%), lebih rapuh, bewarna lebih cerah, dan rasanya lebih enak dibanding gambir untuk industri (Suherdi et al., l994). Mengenai air limbah penirisan, menurut Heyne (l987) banyak mengandung asam lemak yang berguna dalam pencelupan tekstil dan penyamakan kulit.
 Pengempaan adalah pengolahan gambir yang menggunakan alat tradisionil yang terbuat dari kayu dan merupakan tahap yang sangat menentukan dalam pengolahan gambir, karena menentukan kualitas dan kuantitas getah yang keluar dari daun dan ranting, di samping oleh jenis alat yang digunakan dan kemampuan tenaga manusia dalam pengempaan. Terdapat dua jenis alat kempa yang berkembang di Sumatera Barat, yaitu alat kempa kayu dan alat kempa dongkrak. Kempa kayu merupakan alat pengolahan peninggalan nenek moyang yang dalam operasionalnya cukup menguras tenaga kerja manusia, sedangkan pengolahan dengan kempa dongkrak sudah lebih ringan, walaupun tingkat keamanan dan kebersihannya masih kurang terjaga (Hasan dkk, 2000).
Alat kempa kayu yang lebih dikenal sebagai alat kempa baji terbuat dari dua belahan kayu besar yang menjepit sebuah jepitan berbentuk huruf V. Kayu jepitan masing-masing berukuran panjang 4,5 meter, lebar bagian tengah (tempat bahan) 0,5 meter, lebar bagian ujung dan pangkalnya 0,2 meter dengan tebal 0,15 m. Dalam operasional alat kempa kayu dilengkapi dengan 8 buah baji kayu ukuran besar yang berfungsi sebagai pasak untuk pengatupan jepit. Baji-baji tersebut dipasakkan dengan palu kayu seberat l5 kg sehingga jepitan saling merapat, sehingga bahan baku yang ditaruh di antara kedua kayu akan terkempa dan getahpun keluar. Sedangkan pada alat kempa dongkrak, fungsi kayu jepitan diganti dengan dongkrak yang berkapasitas 20 ton, dipasang di atas bahan yang akan dikempa.
Batas antara bahan dengan dasar dongkrak dibatasi dengan papan tebal. Sedangkan bahagian atas dongkrak dan bahagian bawah bahan terdapat balok kayu penahan, sehingga gerakan dongkrak kearah bahan yang memungkinkan berlangsungnya pengempaan, sehingga getah gambir keluar.
Saat ini telah berkembang 4 jenis alat yang menggunakan teknologi, yaitu alat kempa sistem dongkrak, sistem ulir, sistem dongkrak hidrolik, dan sistem pabrik. Kelebihan alat- alat ini lebih effisien dibanding alat tradisional karena tidak menggunakan tenaga manusia, di samping kualitas dan kapasitasnya lebih tinggi, penanganannya lebih mudah dan mampu memberikan daya tekanan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, penggunaan alat yang mengandung teknologi ini perlu lebih disosialisasikan di dalam masyarakat agar lebih cepat berkembang. Masalah rendemen dan mutu yang dihasilkan merupan hal yang perlu dicarikan teknologi dan alat yang lebih tepat guna, effisien, dan effektif. Di antaranya standarisasi alat (mesin) yang sesuai dengan kebutuhan.


BAB III
BAHAN DAN METODA
3.1 Tempat dan Waktu
Wawancara petani ini diadakan pada tanggal 16 november 2012 pada pukul 14.30 wib. Tempat kami mewawancarai petani tanaman gambiri di Jorong Kampung Harapan, Kenagarian Sialang , Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumetera Barat. Yang merupakan penghasil utama gambir di Sumetera Barat.
3.2  Jenis Tanaman
Jenis tanaman yang kami pilih yaitu tanaman gambir (Uncaria gambir (Hunt.) Roxb) termasuk dalam divisi Magnoliophyta, kelas Magnoliopsida, ordo Gentianales, family Rubiaceae dan genus Uncaria.
3.3 Profil Petani
          Petani yang kami wawancarai bernama Syamsibar berumur 47 tahun merupakan seseorang petani gambir, dan bapak syamsibar pendidikan terakhirnya kelas 2 Sekolah Dasar dan mempunyai tanggungan 4 orang yaitu istri, anak, ank angkat dan adik istri. Bapak syamsibar mempunyai luas lahan 2 Ha dan merupakan punya sendiri.
3.4 Analisa Usahatani Tanaman Gambir
            Analisa usahatani tanaman gambir adalah salah satu alat untu mengukur keberhasilan usahatani tanaman gambir. Dalam menganilisa tanamn gambir kami mengunakan analisa usahatani satu cabang. Uasahatani yang dikatakan berhasil apabila nilai R/C  lebih besar dari satu, semakin besar nilai R/C rasio maka menunjukan  semakin besar keuntungan usahatani tersebut. Suatu metode dapat dikatakan efesien dari metode lainnya, apabila mampu menghasilkan output yang lebih tinggi nilainya untuk biaya yang sama atau menghasilkan keuntungan yang sama dengan biaya yang lebih kecil.
3.5 Metoda
            Metoda yang kami gunakan dalam melakukan wawancarai patani adalah metoda pertanyaan terbuka dan tetutup. petanyaan yang diajukan kepada petani seperti nama, umur, pendidikan, tanggungan dan sebagainya. Hal ini digunakan untuk melihat gambaran umum petani. Untuk menganalisis pendapatan petani tanaman gambir diajukan pertanyaan seperti hasil panen, penggunaan tenaga kerja, biaya saprodi dan biaya yang dikeluarkan dalam melakukan produksi.
3.6 Alat dan Bahan
          Alat yang kami gunakan dalam melakukan praktikum ini adalah alat tulis, dan dokumentasi. Bahan yang kami gunakan dalam pratikum ini adalah kuisioner.
3.7 Cara Kerja
            Praktikum ini di mulai dengan pembuatan kuinsioner yang mana di sesuaikan dengan tanaman yang diwawancarai. Pembuatan kuinsioner di buat sendiri tetapi yang di pakai kuisioner yang di buat dosen mata kuliah. Setelah kuisioner di dapatkan pada hari rabu kami pergi ke kampung salah satu rekan kami untuk mewawancarai petani gambir. Setelah data di dapat kami menganalisa usahatani tanaman gambir.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Budidaya Tanaman Gambir
          Proses budidaya tanaman gambir dimulai dari penyidiaan input usahatani yang terdiri dari bibit tanaman gambir dan media tanam yaitu alahan yang sudah di bakar. Input tenaga kerja diperoleh dari tenega kerja dalam keluarga dan tenaga kerja diluar keluarga. Tenaga kerja dalam keluarga di pakai di dalam pengolahan lahan, penyiangan, penyemaian, dan di saat panen. Tenaga kerja diluar keluarga di dalam penyiangan, pemanenan dan pengangkutan. Dalam budidaya tanaman gambir tidak memerlukan pupuk karena sebelum di tanam tumbuhan di lahan di bakar dan abu tersebut sebagai unsur hara tambahan. Pengendalian hama dan penyakit tanaman belum dilakukan oleh petani, kerena kurangnya pengetahuan tentang hama dan penyakit tanaman.
4.2 Penggunaan Saprodi
            Dalam penyiapan kebun tanaman gambir benih petani yang digunakan petani hanya dari buah tanaman sebelumnya.
4.3 Analisis Biaya Pendapatan
            Penerimaan merupakan hasil kali dari jumlah produksi dengan harga jual persatuan. Produksi rata-rata tanaman gambir  pada tahun kelima 1.000 kg dengan harga jual Rp 15.000/kg dan total penerimaan Rp 15.000.000.
            Biaya usahatani berbentuk  biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan . biaya tunai adalah biaya yang langsung dikeluarkan petani  dalam bentuk rupiah yang harus dimiliki petani dalam menjalankan kegiatan usahataninya. Biaya yang diperhitungkan digunakan untuk menghitung  berapa sebenarnya pendapatan kerja petan, modal dan menilai kerja keluarga, biaya penyusutan peralatan, bangunan dan sewa lahan milik sendiri. Dalam praktikum ini dapat dilihat pendapatan rata-rata yang diterima oleh petani gamabir di jorong kampung harapan. Biaya yang dikeluarkan petani dalam usahtani gambir biaya tunai sebesar Rp 6.567.800, biaya yang di perhitungkan sebesar Rp 2.934.200 dan total biaya- biaya adalah Rp 9.502.000. Total pendapatan yang diterima petani adalah Rp 8.342.200 dan total keuntungan yang diterimah petani sebesar Rp 5.498.000. berdasarkan nilai penerimaan dan biaya (R/C) total sebesar 1,58 yang artinya  untuk setiap rupiah biaya total yang digunakan petani dalam memperoleh penerimaan sebesar Rp 1,58. Sedangkan untuk R/C rasio atas biaya tunai adalah sebesar 2,28 artinya setiap rupiah biaya tunai yang digunakan petaniakan memperoleh penerimaan sebesar Rp 2,28.
         
4.4 Pembahasan
Dalam penyiapan kebun gambir baru, petani hanya menanam bibit gambir yang berasal dari buah gambir dari kebun mereka sendiri. Tidak ada seleksi buah maupun tanaman induk yang baik. Banyak petani tidak mengetahui bahwa terdapat lebih dari satu varietas tanaman gambir yang kemampuan produksinya berbeda. Di sisi lain, akibat keterbatasan permodalan, banyak tanaman kebun gambir yang dimiliki masyarakat telah tua dan sebaiknya diremajakan. Dalam budidaya, petani gambir hanya melakukan pemeliharaan kebun mereka dengan penyiangan tanpa penanganan hama maupun penyakit dan pemupukan yang baik. Kondisi tersebut menyebabkan produktivitas kebun mereka sepenuhnya tergantung pada alam.
Total pendapatan yang diterima petani adalah Rp 8.342.200 dan total keuntungan yang diterimah petani sebesar Rp 5.498.000. berdasarkan nilai penerimaan dan biaya (R/C) total sebesar 1,58. Sedangkan untuk R/C rasio atas biaya tunai adalah sebesar 2,28. Usahatani gambir layak di usahakan dan menguuntungkan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 kesimpulan
Berdasarkan prose budidaya gambir masih tradisional, bibit yang digunakan masih bibit lokal, tidak ada pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit. berdasarkan nilai penerimaan dan biaya (R/C) total sebesar 1,58 yang artinya  untuk setiap rupiah biaya total yang digunakan petani dalam memperoleh penerimaan sebesar Rp 1,58. Sedangkan untuk R/C rasio atas biaya tunai adalah sebesar 2,28 artinya setiap rupiah biaya tunai yang digunakan petaniakan memperoleh penerimaan sebesar Rp 2,28. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa usahatani tanaman gambir menguntungkan karena R/C  rasio lebih besar dari satu dan layak diusahakan.
5.2 saran
Dalam kegiatan usahatani gambir harus ada kelompok petani supaya bisa maslah dalam usahatani bisa dan di pecahkan dan harus ada penyuluhan tentang hama dan penyakit tanaman gambir agar petani bisa mengatasi hama dan penyakit tanaman gambir tersebut. Dalam pemakaian bibit petani harus mengunakan bibit unggul supaya produksi meningkat.


DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, A 1991. Manfaat Tanaman Gambir. Makalah Penataran Petani dan
Pedagang Pengumpul Gambir di Kecamatan Pangkalan Kab. 50 Kota 29-30
November 1991. FMIPA Unand. Padang 23 hal.
Hernanto,F.1989.ilmu usahatani.penebar swadaya.jakarta
http://perkebunan.litbang.deptan.go.id/upload.files/File/publikasi/perspektif/Perspektif_vol_5_No_1_5_Azmi.phttp://elibisis.perpustakaan.ipb.ac.id/fullteks%5Cdisertasi%5C2011%5C2011ahb.pdf
Nasrun 1990. pengaruh ektrak daun gambir tehadap jamur Fusarium oxysporum
schledt penyebab layu tanaman cabai, Manggaro Jurnal Hama dan
Penyakit. Faferta Unand Padang I (2);8-10
Nasrun 2001. pemanfaatan katechin ekstrak daun gambir sebagai fungisida nabati
dalam pengendalian penyakit layu tanaman tomat. Stigma IX (1) Januari-
Maret 2001; 54-57
Nazir, M. 2000. Gambir : Budidaya, Pengolahan dan Prospek Diversifikasinya.
Yayasan Hutanku, Padang 2000.




Cara Menanam Gambas

1.   Pendahuluan
Gambas (Luffa acutangula) / Ketola (Malaysia) / Patola (Philipina)
  • Berasal dari India, dibudidayakan di Asia Utara dan Asia Tenggara
  • Cocok pada daerah beriklim tropis (25 ° C), altitude 0-500 dpl
  • Tekstur tanah lempung berpasir, pH 6.5 – 7.5
  • Kandungan nutrisi/100 g  :
    -     Protein          :   0.6 – 1.2 g
    -     Lemak          :   0.2 g
    -     Karbohidrat :   4 – 4.9 g
    -     Kalsium        :   16 – 20 mg
    -     Ferrum         :    0.4 – 0.6 mg
    -     Posphat        :   24 – 32 mg
    -     Vitamin A     :   45 – 410 IU
    -     Vitamin B1   :   0.04 – 0.05 mg
    -     Vitamin B2   :   0.02 – 0.06 mg
    -     Vitamin C     :   7 – 12 mg
    -     Total energi :   87 kJ
2.  Persiapan lahan :
a. Bajak (ploughing)
  • Dilakukan pada min 20 hari sebelum tanam.
  •  Tujuan : memperbaiki aerasi dan struktur tanah.
b. Rancah (swampy)
  •  Dilakukan setelah lahan dibajak dan digaru tahap pertama.
  •  Tujuan : Mengurangi gulma dan penyakit (land sterilization).
c. Klantang (land drying)
  •  Dilakukan selama 1 minggu.
  •  Tujuan : pengatusan lahan agar mudah dibuat bedengan.
d. Pembuatan Bedengan (bedding), got
  •  Bedengan dibuat berhadapan untuk penempatan para-para.
3.  Pemupukan Dasar (base fertilizing) :
  • Fertilizer : NPK (35-45 g/m2) atau campuran N,P,K 2:1:1
  • Dolomit   : 1 kg/5m2
  • Manure   : 1 kg/m2
4.  Persiapan Tanam :
  a.  Persemaian (seedling)
  • Pembuatan media semai, menggunakan media coco peat dengan campuran NPK 1 kg/1m3. Media dimasukkan ke dalam tray atau polybag.
  • Membuat bedengan semai, untuk melindungi bibit dipersemaian dari cuaca dan insek.
  • Pemecahan benih, bertujuan untuk mempercepat masa dormansi sehingga benih mudah berkecambah.
  • Peram benih (sowing), menggunakan kertas peram dalam kondisi lembab, dianjurkan disemprot fungisida dosis rendah.
  • Semai benih, setelah benih diperam 2-3 hari (keluar radikula).
  • Perawatan persemaian, dilakukan dengan penyiraman rutin. Apabila ada gejala serangan jamur atau insek, semprot dengan insektisida atau fungisida dosis rendah.
b.  Tanam (transplanting)
  • Dilakukan pada umur bibit 7-8 hari (keluar 2 daun) setelah benih disemai.
  • Dilakukan sortase bibit, dipilih bibit dengan vigor yang kokoh.
  • Pemberian fungisida dan bakterisida, dilarutkan dan dikocorkan pada bibit yang akan ditanam.
  • Pengairan lahan pertanaman, dilakukan sebelum pindah tanam. Pengairan dilakukan sampai kapasitas lapang.
  • Tugal lubang tanam dan aplikasi nematisida/insektisida.
  • Penanaman harus dilakukan dengan benar, posisi bibit jangan sampai menyentuh mulsa plastik
c.  Training Tanaman
  • Ikat dan merambatkan sulur, dilakukan ketika tanaman mulai berumur ± 7 HST.
  • Sulur harus dirambatkan agar pertumbuhannya sesuai dengan arah lanjaran (± 15 HST).
  • Wiwil, dilakukan dengan cara memangkas cabang-cabang yang tumbuh pada ruas 1-5.
  • Wiwil dilakukan agar pertumbuhan vertikal tanaman lebih cepat.
d.  Penyiangan (cleaning)
  • Dilakukan pada daerah di sekitar lubang tanam, got dan area antar bedeng
e.  Pengairan (irrigation)
  • Pada musim kemarau/kondisi kering, pengairan dilakukan 1-2 kali seminggu.
  • Pada musim hujan, pengairan dilakukan dengan melihat kondisi tanah.
5.  Pemupukan Tambahan  :
  •  Dilakukan ketika tanaman mengalami gangguan pertumbuhan vegetatif (defisiensi nitrogen).
  • Pupuk ZA (10 g/tan) diaplikasikan pada got kemudian dilakukan leb.
6.  Pembuahan  :
  • Polinasi pada gambas menggunakan bantuan angin atau serangga.
  • Pada kondisi vegetatif yang terlalu over atau hujan yang sangat deras, akan menghambat proses pembuahan dan mengurangi jumlah buah yang terbentuk.
  • Dapat dilakukan pemangkasan cabang-cabang yang tidak produktif.
  • Proses awal pembuahan dimulai pada umur  ± 30 HST.
7.  Panen (harvesting)  :
  • Panen dapat dilakukan pada umur ± 34 HST (± 6 HSB). Ciri-ciri buah yang siap dipanen adalah jika cekungan pada buah mulai dangkal.
8.  Hama dan Penyakit
     a.      Hama  :
  • Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)
  • Ulat Grayak (Spodoptera litura)
  • Nematoda (Meloidogyne sp.)
  • Leaf Miner (Liriomyza sp.)
  • Lalat Buah (Bractochera sp.)
     b.     Penyakit :
  • Downey Mildew (Pseudoperonospora sp.)
  • Powdery Mildew (Erisipe sp.)
  • Layu Bakteri/Fusarium
  • Busuk Buah (Phytium aphanidermatum)




Cara Menanam Gaharu

Pohon penghasil Gaharu cocok ditanam di antara daerah dataran rendah hingga ke perbukitan pada ketinggian 0 – 750 meter dari permukaan air laut dengan curah hujan kurang dari 2000 cm, suhu yang sesuai adalah antara 27°C hingga 32°C dengan kadar cahaya matahari sebanyak 70%, jenis tanah yang sesuai adalah jenis lembut/ gembur dan liat berpasir dengan pH tanah antara 4.0 hingga 6.0.

Cara Tanam Aquilaria.sp (Malacensis, Microcarpa, Beccariana dan sejenisnya)
Langkah-langkah sebagai berikut :

  • Bersihkan lahan untuk keperluan pembuatan lubang, untuk memudahkan penanganan sebaiknya dilakukan pengajiran/ patok dengan dimensi sesuai keinginan.
  • Jarak tanam yang ideal untuk bibit gaharu minimal 2 x 2.5 meter atau menyesuaikan dengan tanaman perpaduan lainnya seperti karet, pisang, pepaya dan lain-lain.
  • Galilah tanah lobang ukuran 50 x 50 x 50 cm, pisahkan antara tanah galian atas dan tanah galian bawah biarkan selama ± 15 hari.
  • Siapkan pupuk kandang atau kompos yang akan menggantikan tanah bawah (dimasukkan terlebih dahulu).
  • Penanaman bibit gaharu sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan di pagi hari sampai jam 10.00 waktu setempat, dan dapat dilanjutkan pada jam 4 sore/ petang harinya.
  • Kemudian ambil bibit Gaharu yang siap tanam sobek dan buang pembungkus/ polybag dan tutup tanah galian seperti biasa. (bibit sebaiknya sudah ditempatkan di lokasi kebun 2 minggu sebelum ditanam dan menanam pada sore hari dimusim hujan).
  • Buatlah atap pelindung dari daun ilalang jika kebun monokultur/ terbuka hingga tanaman berumur 18 bulan, setelah itu lahan dapat mulai dibuka.
  • Kebutuhan pupuk relatif kecil yakni NPK 10 – 50 gr / 6 bulan, jika tanaman sudah terjangkit mikoreza maka tidak banyak memerlukan pupuk.

Pemeliharaan
Pemupukan dapat dilakukan sekali 3 bulan, namun dapat juga setiap 6 bulan dengan kompos sebanyak 3 kg melalui pendangiran dibawah canopy. Penggunaan pupuk kimia seperti NPK dan majemuk dapat juga ditambahkan setiap 3 bulan dengan dosis rendah (5 gr/tanaman) setelah tanaman berumur 1 tahun, kemudian dosisnya bertambah sesuai dengan besarnya batang tanaman.
Hama tanaman gaharu yang perlu diperhatikan adalah kutu putih yang hidup di permukaan daun bawah, bila kondisi lingkungan lembab. Pencegahan dilakukan dengan pemangkasan pohon pelindung dan pruning agar kena cahaya matahari diikuti penyemprotan pestisida seperti Tiodane, Decis, Reagent, air destilat sirih, dll. Pembersihan gulma dapat dilakukan sekali 3 bulan atau pada saat dipandang perlu.

Adapun pola tanam gaharu dapat kami bagikan sebagai berikut :
1. Pola Tanam Monokultur
 Cara menanam ini yaitu satu areal perkebunan ditanami hanya pohon gaharu. Cara budidaya ini biasa dilakukan oleh petani-petani yang memang khusus menanam gaharu dan biasanya menggunakan areal pertanahan yang masih belukar. Kami menyarankan untuk areal pertanahan yang baru dibuka ketika akan melakukan pembersihan jangan dibakar tetapi dibersihkan seperlunya saja sekitar lobang tempat penanaman untuk mengefisienkan biaya. Pembersihan secara keseluruhan dapat dilakukan setelah batang gaharu yang ditanam tadi sudah berumur lebih dari 1 tahun. Cara menanam dengan pola tanam monokultur akan dapat memaksimalkan lahan dengan jarak tanam 1m x 1m, 2m x 2m atau 3m x 3m. Pemilihan jarak tanam akan mempengaruhi pertumbuhan pohon gaharu. Sebaiknya menanam pohon gaharu ketika awal musim hujan.
2. Pola Tanam Tumpang Sari
Cara budidaya gaharu dengan pola tanam tumpang sari dapat dilakukan dengan cara menanam pohon gaharu di sela-sela tanaman lain seperti pohon sawit, karet, mahoni, pisang dan tanaman lainnya, dapat juga dilakukan penanaman sebagai pagar pembatas lahan milik kita. Pohon gaharu ini juga dapat ditanam di pekarangan rumah, masjid-masjid ataupun ditempat umum lainnya.
Selain yang kami uraikan diatas, cara menanam pohon gaharu seperti pembuatan lobang dan perawatan ketika budidaya seperti pemupukan, tidak jauh berbeda dengan cara menanam pohon yang lain




Tes Paragraf

Judul widget rightbar

Popular Post

Template Oleh trikmudahseo